Antara Saduran dan Plagiat

Rekan-rekan,

Ada seorang mahasiswa yang nanya ke saya apa beda saduran dengan plagiat? Ia bingung mendapati kenyataan ada 2 tulisan yang sangat mirip dalam 2 sumber yang berbeda. Dan yang sakitnya lagi (kata penanya ke saya) saat berbagai komunitas, seperti Tikar Pandan, Kata Hati Institute, CCDE sedang pontang-panting mengajak anak muda dan berbagai lembaga di Aceh untuk belajar menulis secara benar, bukan menjadi plagiat, seseorang yang notabene orang pertama di Aceh Magazine, salah satu media cetak di negeri tercinta ini memberi contoh yang menurutnya kurang mendukung usaha peningkatan kapasitas menulis anak-anak dan remaja di Aceh. Faktanya sebagai berikut.

Dalam bukunya Tahun-Tahun yang Sulit: Mari Mencintai Indonesia (Terbitan Yayasan Obor Indonesia, 2001, halaman 295-297) termuat artikel Professor Teuku Jacob “Mengapa Kambing Menyeberang Jalan?”. Cuplikan artikel tersebut sebagai berikut.

Informasi yang resmi atau desas-desus kerap diterima dengan berbagai tafsiran oleh kalangan yang berbeda, meskipun informasinya sama dan semuanya menganggap reaksi masing-masing objektif dan benar. Di bawah ini kita coba lihat pelbagai reaksi dan responsi kalangan dengan latar belakang berbeda terhadap pertanyaan netral: “mengapa kambing menyeberang jalan?”

Ahli demografi: Meningkatnya kepadatan populasi di sisi ini memicu beberapa kambing secara selektif untuk pindah ke tempat lain yang desakan demografisnya lebih rendah.

Pakar migrasi: Di seberang, rumput lebih hijau dan kambing ingin mencoba nasibnya di sana.

Ahli evolusi: Ia ingin pindah ke relung ekologis yang lain untuk bertahan hidup.

Pakar mutasi: Ia tidak menyeberang, tetapi melompat-lompat ke seberang jalan.

Ahli genetika: Ia membuktikan bahwa makhluk hidup itu memang egois yang berpuncak pada genanya.

Ahli meteorologi: Ia pikir di seberang tidak hujan

Ahli astrofisika: Untuk menghindari dampak meteor

Ahli vulkanologi: Tanda-tanda gunung api akan meletus

Pengusaha hutan: Kambing dapat menyeberang jalan, karena hukum-hukum biofisika, biomekanika, biokimia dan biomatematika. Dan hukum-hukum itu tidak dapat dimanipulasi.

Ahli matematika: Ia ingin membentuk himpunan baru

Ahli filsafat: Ia tak puas lagi dengan paradigma lama.

Agamawan: Tidak semua hal dapat dipahami dengan persis benar oleh akal manusia

Penganut kepercayaan: Ada kekuatan gaib yang menggerakkannya ke seberang

Intelektual: Itulah kearifan organismik kambing tersebut

Calon doktor: Ia hendak “membuktikan salah” (memfalsifikasi) hipotesis yang mengatakan bahwa kambing tidak berani menyeberang jalan.

Pejabat: Harus diwaspadai, mungkin ia anti-pembangunan.

LSM: Ia bermaksud mencari suaka, karena tidak dapat membuktikan bahwa ia bukan kambing hitam.

……. Dst.

Tahun 2006, seorang Pemimpin Umum/Redaksi Aceh Magazine dengan sandi fairus_mainuri@yahoo.com (Edisi VI, Juni-Juli 2006, halaman 54) menulis sebuah artikel dengan judul “Kambing dan BRR”. Cuplikan artikel tersebut sebagai berikut.

Mari kita bicara tentang seekor kambing. Apa yang Anda akan katakan jika melihat seekor kambing menyeberang jalan yang berlalulintas padat? Kalau Anda seorang pakar demografi, maka berdasarkan teori demografi, Anda mungkin berujar bahwa meningkatnya kepadatan populasi di tempatnya semula telah memicu kambing itu menyeberang menuju lahan yang desakan demografisnya relatif rendah.

Bagaimana bila Anda ahli migrasi? “Di seberang, rumput terlihat lebih hijau dan kambing ingin mencoba peruntungannya di sana,” — pasti ini pulalah jawaban Anda.

Pada profesi yang lain, Anda tentu akan memberikan jawaban yang lain pula. Mari kita coba mereka-reka.

Bila Anda pakar evolusi: “Ia ingin pindah ke bagian ekologis lain untuk bertahan hidup.”

Ahli vulkanologi: “Tanda-tanda gelombang tsunami akan datang.”

Ahli matematika: “Ia ingin membentuk himpunan baru.”

Agamawan: “Tidak semua hal dapat dijelaskan dengan akal manusia”.

Penganut kepercayaan: “Ada kekuatan gaib yang menggerakkannya ke seberang.”

Kandidat doktor (S3): “Ia hendak ‘membuktikan salah’ alias memfalsifikasi hipotesis yang mengatakan bahwa kambing tidak berani menyeberang jalan”.
Pejabat: “Harus diwaspadai, mungkin ia antipembangunan”.

Aparat: “Perlu dicurigai, jangan-jangan ia membawa bahaya laten.”

LSM: “Ia bermaksud mencari suaka, karena tidak dapat membuktikan bahwa ia bukan kambing hitam.”

Politikus: “Dasar kutu loncat!”

……dst

Mau tahu lebih lanjut? Silakah baca 2 sumber di atas. Jangan lupa…Bantulah daku mencari jawaban untuk penanya di atas. Ini contoh kerja plagiat atau menyadur ya?????

2 Balasan ke Antara Saduran dan Plagiat

  1. lidahtinta mengatakan:

    Ah, mudah itu Pi. Tinggal lihat aja, mana tahun yang lebih tua dalam penerbitan tulisan tersebut. Yang lebih muda biasanya meniru pada yang tua. hehehe…Menarik ini.

  2. edi miswar mengatakan:

    Herman benar, pemilahan contoh tulisan di atas apakah termasuk pengklasifikasian ke keranjang yang mana, amatlah menarik. Tapi, sebelumnya kepada Papi, saya minta maaf atas ‘sedikit kebodohan’ saya(kata-kata ini saya ambil dari karangan-karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo ketika seorang pendekar muda akan bertarung [pibu] dengan pendekar tua) karena lancang hendak mencoba-coba menggarami laut.

    Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Profesor Teuku Jacob dengan mengurutkan beberapa tanggapan bermacam-macam pakar keilmuan tentang fenomena kambing yang menyeberang jalan di dalam altikelnya, kemungkinan sama juga halnya dengan apa yang dilakukan Fairus di Aceh Megazine yakni mengutip. Logika sederhana saya, Teuku Jacob walaupun seorang profesor -arkeolog kenamaan Indonesia- tentunya pemahamannya mengenai suatu fenomena dunia takkan seluruhnya dapat ia pahami dari sudut pengkajian segala keilmuwan. Oleh karenanya, saya – biarpun S1 belum tergapai di tangan- menyangsikan komentar tersebut merupakan hasil pemikirannya sendiri. Dari pemahaman ini, dengan sangat menyesal saya mengemukakan, jika Profesor Teuku Jacob saya sangsikan orisinalitasnya maka Fairus justru lebih ragukan lagi.

    Untuk rincian teknik pengutipan sesuai konvensi ahli kebahasaan, buku Profesor Gorys Keraf yang berjudul “Komposisi” dapat dijadikan sebagai referensi. Selanjutnya, tulisan Profesor Teuku Jacob dan Fairus apakah dikategorikan “saduran” atau “plagiat”, mengenai ini cobalah Papi membaca salah satu artikel H. B. Jassin dalam buku “Tifa Penyair dan Daerahnya” (saya pernah membaca artikel tentang ‘pelacuran dalam tulisan’ tersebut di Perpustakaan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di RKU IV).

    Pertanyaan yang ditujukan kepada Papi oleh seseorang; apakah hal tersebut adalah ‘saduran’ atau ‘plagiat’? Pendapat saya; itulah ‘plagiat’, karena jika disebut sebagai ‘saduran’ maka sumbernya tentu saja disebutkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: