Surat Yang Tak Pernah Terkirimkan: Kado Pensiun buat AF

Aku tulis surat ini  pascaultahmu yang keenam puluh lima. Di hari-hari terakhir masa baktimu di almamater yang telah mempertemukan kita, aku ingin curahkan segalanya padamu. Mungkin akan jadi ingatan bagiku kala suatu saat nanti kubuka-buka lagi arsipku di rumah. Aku tulis surat ini untuk nukilkan sejarah hidup dan hari-hari panjang yang pernah kita jalani bersama selama hampir dua puluh enam tahun, sebuah rentang waktu yang cukup panjang untuk dilupakan.

Ayah. Izinkan aku memanggilmu seperti itu. Itu nama indah yang akrab sekali di telingaku sejak aku mengenalmu dan adik-adik yang lucu: Iwan, Yanti,  Ican, Rahmi, dan Ijal di rumah Lampriet atau rumah toko Beurawe. Meski dua di antara mereka tidak lagi bersama kita karena prahara 26 Desember 2004, wajah dan kelucuan mereka tetap hinggap di benakku.

Ayah, meski surat ini tidak pernah terkirim, aku ingin sampaikan terima kasih tulusku padamu. Engkau memang beda. Pertemuan pertama kita di kelas “Kesastraan” di ruang 9 Diploma langsung beri rasa takzim padaku. Tampilanmu yang sederhana, suaramu yang pelan, satu satu, lantang, berikan energi lain padaku (mungkin juga teman-temanku seangkatan: Wil, Ampuh, Heldijal, Eli, Mimi, Ida, atau kakak kelas yang terpaksa kuliah ulang). Nilai “A” untuk mata kuliah Kesastraan itulah yang beri dorongan bagiku untuk terus larut dan bergelut di dunia sastra hingga hari ini. Ayah, engkau telah berikan ruang bagiku tuk temukan pilihan jalur hidup, meski mungkin tak punya makna bagi orang lain.

Ayah, aku tulis surat ini buat ingatkan diri, bahwa di saat kreativitas masih menjadi suatu yang terlarang di kampus kita, engkau berikan ruang bagi kami buat lakukan sesuatu untuk meningkatkan kapasitas diri: belajar dari kakak kelas dan berbagi dengan adik-adik yang baru masuk. Aku jadi ingat betul bagaimana engkau ingatkan aku sebagai pengurus warga GEMASASTRIN dan rekan-rekan aktivis warga untuk secepatnya menggulung tenda-tenda perkemahan sebelum dosen senior yang lain datang di arena “peisijuek” mahasiswa baru saban tahun. Engkau tidak ingin kami dinilai ‘membantah” petuah para sepuh di jurusan ini. Kalau boleh aku jujur hari ini, kegiatan perkemahan yang diisi dengan latihan teater, olah tubuh, olah vokal, meditasi seperti itu ternyata beri “sesuatu” yang sangat berguna bagiku di hari-hari selanjutnya di fakultas ini. Engkau beri kesempatan padaku dan kami semua saat itu tuk belajar banyak tentang sastra: drama atau puisi dari Basri Yusuf Seumirah, Nasrullah IBA, Sayid Saifullah, Raden, Barlian AW, Puspahati, Nurul A’la, Saifuddin Mahmud, atau senior-senior lain yang luar biasa itu. Tanpa kesempatan yang “nyuri-nyuri” seperti itu, kami, anak-anakmu, pasti tidak akan punya kapasitas lain selain yang diberikan di ruang kuliah.

Ayah, aku tulis surat ini tuk sampaikan rasa syukur pada-Nya atas kesempatan bertemu denganmu. Kesabaranmu membimbingku menyelesaikan skripsi yang sempat tertatih-tatih beberapa waktu telah membuatku belajar banyak tentang kehidupan. Bahwa ilmu ternyata harus saban waktu diulang. Bahwa kerja menulis ternyata tidak akan pernah selesai. Bahwa jalan hidup ternyata tidak selamanya lempang. Ada saja halangan yang membuat hajatan berbeda dengan kenyataan. Bahwa teman kadang memang menggunting di lipatan. Bahwa kejujuran, keikhlasan, dan ketabahan adalah pintu masuk ke semua kesempatan.

Ayah, aku tulis surat ini untuk menyatakan takzimku padamu. Andai dulu kuturuti kata hati dan bergabung dengan teman-teman di SMA Yapena Arun, aku mungkin tidak akan belajar sebanyak ini bersamamu. Nasihatmu untuk “bertahanlah satu tahun lagi di sini“ saat kusampaikan ketidaklulusanku dalam tes calon dosen tempo hari ternyata membuat jalan hidupku menjadi beda. Entahlah. Kegagalan dalam hidup, seperti katamu saat itu, ternyata harus disikapi dengan bijak. Sejuta rencana dan mimpi harus kalah dengan takdir yang telah tersurat saat kita belum lahir.

Ayah, meski surat ini mungkin tak pernah terkirim padamu dalam amplop berperangko, aku ingin ia jadi pengingat di masa depan.  Hampir sepuluh tahun menjadi pendampingmu di Janur Kuning membuatku belajar banyak tentang bagaimana memaknai realitas kehidupan dan ke mana keberpihakan harus diarahkan dalam hidup yang mahasingkat ini. Aku jadi ingat bagaimana kita habiskan hari-hari dan kadang malam di ruang garasi yang kita sulap jadi kantor yayasan. Aku selalu ingat bagaimana engkau ajarkan makna kebersamaan. Aku selalu ingat bagaimana engkau ajarkan makna keterbukaan.  Aku selalu ingat bagaimana engkau ajarkan keberpihakan pada anak-anak miskin, lansia, perempuan papa, dan guru-guru yang ikhlas mendampingi muridnya. Aku selalu ingat bagaimana engkau ajarkan bahwa sebuah kerja tidak harus diukur dengan uang. Kepuasan batin, kepekaan rasa, dan keinginan untuk terus melakukan kebaikan ternyata memang tidak bisa dibayar dengan apa pun, walaupun dengan sejumlah uang.

Ayah, saat surat ini dipublikasikan, aku sudah hampir 20 tahun jadi dosen. Aku jadi ingat lagi bagaimana tanggapanmu saat kusampaikan niatku untuk mengubah orientasi pembelajaran sastra bagi adik-adik mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa saat aku kembali dari Bandung, 1993. Ada gurat kekhawatiran di wajahmu. Teman-teman dosen senior lain belum tentu bersepaham dengan niatan itu. Tapi, tak apalah. Aku jadi ingat bagaimana reaksi adik-adik: Budi Arianto, Nurdin, Bussairi Ende, dan lain-lain saat kuminta mereka membaca ”Sastra dan Teori Sastra” A. Teeuw, ”Tentang Sastra” Jan Van Luxemburg, atau buku lain yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Entahlah. Sebuah perubahan memang harus dimulai walau tak semua orang sepaham dengan itu.

Ayah, perubahan demi perubahan telah kucoba lakukan di kelas sastra. Mahasiswa kita tak lagi belajar sastra di ruang yang mahasempit. Mereka sudah akrab dengan Taman Budaya Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Museum Negeri Aceh, Teater Nol, Komunitas Tikar Pandan, Toko Buku Dokarim, Kantor JKMA, Kantor Tyfa, dan alam raya. Aku, Budi Arianto, dan anggota tim pengajar sastra yang lain bukan lagi ”orang yang mahatahu”. Aku (kami) hanya fasilitator (dan kadang-kadang provokatur, hehehe). Sumber belajar bagi mereka ada di mana-mana dan siapa saja. Kupikir mahasiswa kita sudah saatnya punya ruang untuk belajar pada orang lain, belajar melahirkan kreativitas personal, belajar jadi eseis, jadi cerpenis, jadi penyair, jadi penulis naskah drama, jadi aktor panggung, jadi juri, jadi apa saja. Mereka sudah saatnya diberi ruang tuk miliki kompetensi lain untuk menopang hidup dan profesi masa depan. Entahlah. Meski kadang kudengar tanggapan miris dari teman-teman, aku enjoy saja. Aku berharap mahasiswa kita juga bisa enjoy. Entahlah….

Ayah, berbahagialah. Tersenyumlah menatap hari-hari di depan. Jejakmu akan kami susuri ulang. Langkahmu akan kami lanjutkan. Selamat jalan mahaguruku. Selamat  jalan orang tuaku. Selamat jalan sahabatku. Sosok dirimu ’kan selalu kami kenang.

Mibo, Medio Mei 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: