Antara Saduran dan Plagiat

31 Juli 2009

Rekan-rekan,

Ada seorang mahasiswa yang nanya ke saya apa beda saduran dengan plagiat? Ia bingung mendapati kenyataan ada 2 tulisan yang sangat mirip dalam 2 sumber yang berbeda. Dan yang sakitnya lagi (kata penanya ke saya) saat berbagai komunitas, seperti Tikar Pandan, Kata Hati Institute, CCDE sedang pontang-panting mengajak anak muda dan berbagai lembaga di Aceh untuk belajar menulis secara benar, bukan menjadi plagiat, seseorang yang notabene orang pertama di Aceh Magazine, salah satu media cetak di negeri tercinta ini memberi contoh yang menurutnya kurang mendukung usaha peningkatan kapasitas menulis anak-anak dan remaja di Aceh. Faktanya sebagai berikut. Baca entri selengkapnya »


Potret Buram Kehidupan: Catatan Personal Doel CP Allisah

31 Juli 2009

Hari Ahad, 30 September 2007, Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) akan meluncurkan buku kumpulan puisi “Nyanyian Miris” (The Sad Song) Karya Doel CP Allisah di Aula Museum Negeri Aceh.  Sebagai salah seorang anggota pengurus DKB saya ingin menyampaikan selamat kepada Doel atas kerja keras selama ini. Di samping itu, sebagai salah seorang sahabat dekat Doel, saya juga ingin menyampaikan apresiasi dan salut saya kepada rekan saya ini yang terus menulis dan menulis tanpa kenal waktu. Doel yang sejak dulu saya kenal suka jalan dan memotret ini memang tidak akan pernah berhenti memotret setiap gejala dan peristiwa yang ia temui dalam setiap perjalanan dengan mata batinnya. Kumpulan puisi”Nyanyian Miris” ini merupakan salah satu bukti konkret bagaimana Doel memotret berbagai realitas keseharian di Aceh dalam rentang waktu yang cukup panjang, 1979—2006. Baca entri selengkapnya »


SERTIFIKASI DAN PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

31 Juli 2009
  1. Pengantar

PROGRAM SERTIFIKASI GURU dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Yang dimaksud dengan sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Sertifikat pendidik ditandatangani oleh rektor perguruan tinggi yang ditunjuk untuk sebagai penyelenggara program sertifikasi di daerah. Berdasarkan Permen tersebut, rekan-rekan guru yang telah menyelesaikan program S1 ataupun D-IV berhak mengikuti program ini. Guru yang lulus program sertifikasi akan mendapatkan sertifikat pendidik dan di-SK-kan oleh Dirjen PMPTK untuk mendapatkan tunjangan profesi guru sebesar satu kali gaji pokok. Baca entri selengkapnya »


Refleksi Sikap Hidup dalam Hadih Maja Aceh

31 Juli 2009

A. Pendahuluan

Sebagai sebuah masyarakat yang berbudaya, masyarakat Aceh mengenal berbagai macam tradisi sastra, baik tradisi sastra lisan maupun tradisi sastra tulis. Sebagaimana halnya dalam masyarakat lain di Nusantara, tradisi sastra lisan diduga lebih dahulu berkembang daripada tradisi sastra tulis.

Di Aceh, secara khusus, tradisi tulis ini baru berkembang sejak datangnya Islam. Hal ini dibuktikan melalui pemakaian aksara Arab-Aceh (aksara jawoe) dan aksara Arab-Melayu (Jawi) dalam berbagai naskah klasik Aceh yang terselamatkan dan tersimpan di berbagai museum dan tempat penyimpanan naskah di dalam dan luar negeri. Persentuhan dengan tradisi Arab, Persia, dan Melayu diduga tidak hanya pada aspek kepercayaan, tetapi juga pada aspek lain dalam bidang budaya, termasuk tradisi sastra. Karena itu, genre sastra yang berkembang di Aceh hingga saat ini tidak jauh berbeda dengan tradisi sastra yang berkembang dalam masyarakat tersebut, khususnya masyarakat Melayu. Malah, banyak sekali karya sastra yang berkembang saat ini merupakan saduran dan memiliki hubungan interteks dengan tradisi sastra dalam dunia Melayu dan Islam. Itu sebabnya, barangkali, kehidupan masyarakat Melayu secara umum selama ini sering diidentikkan dengan kehidupan yang islami.

Secara umum sastra Aceh diciptakan dalam bentuk puisi (puisi sanjak, atau narit meupakhôk). Hal ini, misalnya dapat dilihat dalam hikayat, neurajah (mantra), h’iem (teka teki), narit/hadih maja (ungkapan/peribahasa), pantôn (pantun), liké (zikir), nalam (nazam), nasib (kisah), dô da idi (nyanyian buaian), dan ca-é (syair). Tradisi sastra dalam bentuk prosa hanya dikenal dalam cerita rakyat, haba jameun (Abdulllah, 1991). Uraian berikut ini akan difokuskan pada hadih maja  sebagai sebuah tradisi sastra lisan yang masih berkembang di Aceh.

Hadih maja dibentuk dari akar kata hadih ‘hadis’ dalam hal ini merujuk pada perkataan, pernyataan, ungkapan verbal; dan maja ‘moyang wanita’ merujuk pada nenek moyang, orang tua-tua. Dengan demikian, hadih maja dapat dimaknakan sebagai ‘perkataan, pernyataan, ungkapan-ungkapan verbal yang berasal dari nenek moyang’. Dalam tradisi sastra Melayu secara umum disebut ‘pepatah, ungkapan, dan peribahasa’. Baca entri selengkapnya »


AKHIRNYA CAIR JUGA: CATATAN REFLEKSI PROGRAM SERTIFIKASI GURU DI ACEH

31 Juli 2009

Prolog

Dalam beberapa hari terakhir saya mendapat SMS atau telepon dari beberapa orang guru yang telah dinyatakan lulus dalam program sertifikasi guru di Aceh kuota 2006-2007. Umumnya mereka memberitahukan bahwa mereka telah menerima tunjangan profesi guru yang dikirim oleh Dinas Pendidikan NAD melalui kantor pos. Saya bahagia. Betapa tidak, setelah sekian lama berada dalam ketidakpastian, akhirnya dana tersebut dinikmati juga oleh para guru kita, pahlawan tanpa tanda jasa, yang tak henti-hentinya bekerja mencerdaskan dan mengembangkan potensi anak-anak kita semua. Baca entri selengkapnya »


Surat Yang Tak Pernah Terkirimkan: Kado Pensiun buat AF

1 Juli 2009

Aku tulis surat ini  pascaultahmu yang keenam puluh lima. Di hari-hari terakhir masa baktimu di almamater yang telah mempertemukan kita, aku ingin curahkan segalanya padamu. Mungkin akan jadi ingatan bagiku kala suatu saat nanti kubuka-buka lagi arsipku di rumah. Aku tulis surat ini untuk nukilkan sejarah hidup dan hari-hari panjang yang pernah kita jalani bersama selama hampir dua puluh enam tahun, sebuah rentang waktu yang cukup panjang untuk dilupakan.

Ayah. Izinkan aku memanggilmu seperti itu. Itu nama indah yang akrab sekali di telingaku sejak aku mengenalmu dan adik-adik yang lucu: Iwan, Yanti,  Ican, Rahmi, dan Ijal di rumah Lampriet atau rumah toko Beurawe. Meski dua di antara mereka tidak lagi bersama kita karena prahara 26 Desember 2004, wajah dan kelucuan mereka tetap hinggap di benakku. Baca entri selengkapnya »


Hampir Dua Tahun Bencana Berlalu

1 Juli 2009

Gerimis kecil temani aku terbang

Tinggalkan negeri tanah kelahiran ini tuk sementara waktu

Lewat jendela 20 F Garuda kutatap lagi negeriku

Yang masih penuh luka ini

Hampir dua tahun bencana gelombang raya itu berlalu

Belum juga negeri ini sembuh

Carut-marut masih terlihat di sepanjang garis pantai

Tanah bekas rumah masih menganga

Dan mantan penghuninya, ribuan jiwa, masih mengungsi

Di barak pengungsian atau tenda-tenda tua

Hampir dua tahun sudah bencana itu berlalu

Janji demi janji belum juga terpenuhi

Milyaran rupiah dana bantuan menguap buat gaji

Dan produk-produk promosi diri

Hampir dua tahun sudah bencana itu berlalu

Kita tetap berharap pada janji-janji palsu

Sahabat,

Sambil berzikir doakan orang-orang tercinta

Yang telah pergi bersama gelombang raya

Mari kita doakan juga semoga para petinggi di negeri ini menyadari

Bahwa gaji mereka adalah harga ribuah jenazah orang yang kita cintai

Yang hilang atau terkubur di relung-relung laut dan berbagai pelosok negeri

Bahwa gaji mereka adalah harga air mata para janda, anak yatim

Yang tak henti menangis menyesali bencana ini.

Pulau Umang, Ujung Kulon, Banten, 19 Desember 2006